Uncategorized

Distributor Celurit Pencak Silat Murah

Distributor Celurit Pencak Silat Murah

Untuk info lebih lanjut dapat langsung menghubungi ke :

Telp : 021 470 5841

Hp & WA : 08127866663 / 081289854040

Alamat : Jl. Panca wardi, No. 33-34, Kayu Putih, Jakarta Timur

Seni Pertarungan yang Memikat

Berbicara tentang Pencak Silat, maka yang ada di pelupuk mata adalah sebuah pertarungan yang menegangkan sekaligus mengasyikkan. Ketegangan itu dibangun ketika menyaksikan kecepatan serta keluwesan gerakan yang dipertontonkan oleh para pesilat. Konon, seni bela diri ini asli Indonesia dan telah menyebar merata di seluruh kepulauan nusantara. Bahkan melanglang sampai ke negara tetangga, Malaysia, Thailand dan Cina.

Seni bela diri Pencak Silat merupakan sebuah prosesi pertarungan yang melibatkan satu orang (tunggal), dua orang (berpasangan) atau lebih dalam sebuah arena. Dalam pertarungan Pencak Silat ini, ada yang menggunakan senjata tajam atau hanya menggunakan tangan kosong. Adapun gerakan yang paling spesifik dari Pencak Silat adalah lompatan-lompatan energik dan luwes, tangkas serta sedikit banyak mengandung unsur seni akrobatik. Disamping itu, gerakan-gerakan dalam Pencak Silat mempunyai persamaan dengan seni tari dari segi ketepatan gerak, gerak di udara dan seni pertarungan. Dan didalamnya terdapat tehnik pengendalian diri, baik dari segi mental dan fisikal.

Disamping menguasai tehnik bertarung yang mengandalkan kecekatan, ketangkasan dan kemahiran, para jawara silat biasanya membekali diri dan menguasai ilmu-ilmu pendukung lainnya. Penguasaan ilmu kekebalan tubuh ataupun ilmu tenaga dalam (kanoragan) diyakini akan mampu memberikan support kekuatan mental.

Selain digunakan dalam pertarungan, gerakan-gerakan Pencak Silat sering dimodifikasi menjadi gerakan dasar tarian dalam genre kesenian. Pengaruh pola gerak Pencak Silat dapat diketemukan pada kesenian Topeng, Ludruk, tari laki-laki dalam tayub dan beberapa gaya hadrah. Pada umumnya, pemakaian acuan gerakan Pencak Silat berkenaan dengan pengungkapan tantangan, keberanian, kewiraan, kekuatan serta rasa percaya diri baik dari segi fisikal dan metal.

Penyebaran seni Pencak Silat di berbagai daerah di nusantara, ternyata mampu menciptakan gerakan-gerakan, gaya serta versi yang berbeda, sesuai dengan lingkungan, situasi dan kondisi daerah. Begitu pula yang terjadi di wilayah Sumenep, seni bela diri Pencak Silat pertama kali menjadi andalan para putra raja di lingkungan keraton, setelah itu menyebar di kalangan rakyat dan sangat diminati oleh kalangan pemuda. Pada akhirnya jenis seni Pencak Silat menjadi primadona di kalangan rakyat kebanyakan

Dalam perkembangannya, seni bela diri Pencak Silat mengalami pembaharuan yaitu dengan memasukkan unsur seni lainnya dalam setiap pementasan. Unsur tari dan unsur musik tersebut tidak mengurangi substansi dan nilai-nilai yang ada, bahkan cenderung memperkuat dengan kemasan gerakan-gerakan yang lebih indah. Masyarakat pencinta Pencak ini menamakan “Silat Ghul-Ghul”. Nama Ghul-Ghul berasal dari kependekan Guluk-Guluk.

Pencak Silat Ghul-Ghul pada awalnya dikembangkan di lingkungan pondok Pesantren, dan merupakan perpaduan antara pencak silat dan musikal. “Pencak” yang mempertontonkan kecekatan, ketangkasan dan ketahanan fisik serta ilmu tenaga dalam ini mampu diperagakan dalam gerakan-gerakan luwes, indah dan gemulai serta diiringi oleh hentikan alat musik gendang. Tidaklah mengherankan kalau perpaduan gerak tangkas dan gerakan luwes tarian tersebut mampu menarik minat serta menyedot perhatian masyarakat untuk mempelajarinya. Sehingga pada masa itu perkumpulan-perkumpulan silat Ghul-Ghul tumbuh bagai jamur di musim penghujan.

Modifikasi Berbagai Aliran Silat
Seperti halnya permainan Pencak silat pada umumnya, dasar-dasar dari gerakan silat adalah sama. Gerakan pencak yang dimainkan biasanya memodifikasi dari berbagai gerakan silat yang sudah ada, serta memainkan dari berbagai versi daerah. Pada umumnya para pesilat Ghul-Ghul didominasi pesilat laki-laki. Dalam setiap pementasan pesilat ini memperagakan gaya permainan yang sudah dibakukan, diantaranya ; gaya Malaju berasal dari Sumenep, gaya Bhabiyan berasal dari pulau Bawean, gaya Cemandik berasal dari Betawi dan gaya Pamor yang berasal dari Pamekasan.

Adapun ciri-ciri yang membedakan gerakan-gerakannya, sebagai berikut ;

1. Gaya Malaju (Sumenep) gerakan dalam gaya ini sangatlah halus, luwes dan gemulai. Dibalik kehalusan dan keluwesan, setiap gerakan yang dimainkan mengandung tenaga dalam tinggi. Setiap tendangan yang dilontarkan mengandung jurus-jurus mematikan.
2. Gaya Bhabiyan (Bawean), gaya permainan ini adalah perpaduan silat dan tari. Sehingga tidaklah mengherankan kalau gaya Bhabiyan cenderung pada gerakan-gerakan tarian dan keindahan penampilan. Tujuan dari permainan gaya ini adalah menciptakan suasana menyenangkan. Sehingga jurus-jurus yang dimainkan tidak mengandung tenaga dalam tinggi serta tendangan-tendangan yang dilontarkan tidak hebat dan mematikan.
3. Gaya Cemandik (Betawi), gaya ini mirip gaya Bhabiyan, yaitu gerakan-gerakan silat cenderung pada gerakan tarian. Namun dibalik keindahan dan keluwesan setiap gerakan, mengandung satu kekuatan tenaga dalam yang dahsyat dan mematikan.
4. Gaya Pamor (Pamekasan), permainan dalam gaya ini cenderung kasar. Setiap gerakan yang dimainkan adalah mempertontonkan kepandaian dan ketangkasan bertarung. Namun dalam diri para pesilat tidak mempunyai/memiliki tenaga dalam dan jurus-jurus yang dimainkan tidak mematikan. Oleh sebab itu, ketika tampil para pesilat melengkapi penampilannya dengan senjata tajam, misalnya celurit. Alat tersebut digunakan untuk memamerkan keperkasaan.

Adapun alat musik pengiring permainan silat Ghul-Ghul, terdiri dari beberapa alat musik, yaitu 1 gendang besar, 3 gendang kecil (ketipung), 1 jidur dan 1 kerca. Adapun para penabuh terdiri dari 5 personel. Tujuan dari memasukkan unsur musik adalah memberikan semangat agar permainan silat Ghul-Ghul semakin menyenangkan dan menggairahkan.

Dalam setiap pementasan, unsur musik menjadi sangat dominan ketika mengikuti langkah-langkah kaki para pesilat saat berlaga. Permainan irama dalam musik pun beragam, disesuaikan dengan gaya yang dimainkan oleh para pesilat. Adapun irama musik yang dimainkan silat Ghul-Ghul pada saat pementasan, pertama, irama Serama, yang terdiri dari dua unsur, Serama Teter dan Serama Biyasa, kedua ; irama Bhabiyan, terdiri dari dua, yakni Bhabiyan Sumenebben dan Bhabiyan Palembhang. Ketika menampilkan pencak gaya Malaju, irama yang dimainkan adalah irama musik Serama, gaya Cemandik, diiringi irama Serama Teter, gaya Bhabiyan diiringi oleh irama Serama Teter, gaya Bhabiyan Sumenebben dan Bhabiyan Palembhang memakai irama Serama Teter. Untuk gaya Pamor, irama musik yang dimainkan adalah Serama Biyasa.

Ketika sedang beristirahat permainan musik tetap dimainkan, adapun nama irama-nya adalah ; Ayak Komedi, Ayak Sampang, Polisiyan dan Tenggian. instrumental yang didominasi pukulan gendang tersebut, ternyata mampu membangkitkan kegairahan kepada para pesilat untuk lebih piawai menunjukkan kecepatan dan ketepatan pukulan sekaligus mempertontonkan kelenturan tubuh. Sehingga tontonan yang dikemas dalam pementasan tersebut semakin memikat.